Dua anak manusia bertemu.
Setiap pertemuan selalu menghasilkan sebuah cerita, entah itu bahagia atau tidak. Tapi begitu caraku memandang. Aku salah satu dari dua anak manusia itu, sebut saja namaku Cuara, dan dia cuari.
Sebenarnya pertemuan dengan cuari itu hal yang biasa, tapi cerita kami yang luar biasa. Dua anak manusia yang fikirannya masih cetek mencoba mengulik arti perjalanan dan tahapan hidup. Mulai dari lahir, kecil, remaja, dewasa,..... Dan tua. Nah titik disanalah yang kami bahas. Membahas tentang sebuah kata yang sakral yaitu pernikahan, seusia kami, memanglah itu hal yang lumrah.
Tapi dua anak manusia ini, membahas ngalur ngidul sampai hujan turun yang membuat cerita kami semakin dalam dan kuat karena air hujan menjadi penghalang suara lembut kami.
Pernikahan itu ibarat ketan. Ketan tak akan lengket, tak akan menyatu jika dimasak hanya sebutir, dia juga tak akan memiliki rasa dan arti jika sendiri. Makanya ketan itu akan menyatu dan memiliki sensasi jika dimasak dan dipersatukan dalam satu panci yang dipanggang diatas api, dia akan berjuang untuk bisa menjadi satu kesatuan.
Pernikahan bukan hanya dua kepala saja jadi satu, tapi banyak kepala dari dua belah pihak agar menyatu menghasilkan sebuah kata sepakat.
Intinya dua anak manusia ini, hanya mengeluarkan keluh kesahnya saja, agar rasa sesak dihati bisa hilang. Walau itu hanya 0,10% saja, seenggaknya udah cerita aja pokoknyalah. Bercerita, karena kegemaran wanita memang bercerita.
